Sunday, October 12, 2008

Pendahuluan

Banyak orang yang alergi berbicara tentang takdir. Mereka mengatakan bahwa percaya kepada takdir adalah tahyul. Kehidupan manusia adalah tergantung sepenuhnya kepada perjuangan diri sendiri. Pendapat seperti ini memang benar adanya, tetapi pendapat ini pulalah yang kemudian menghilangkan keyakinan akan kebaikan, kerendahan hari, ketulusan dan nilai-nilai penting lainnya. Orang-orang seperti inilah yang kemudian paling sering menghalalkan segala cara untuk kemudahan diri sendiri, yang pada akhirnya hanya membawa diri sendiri ke dalam penderitaan.

Sebaliknya banyak pula orang yang mempercayakan hidupnya kepada tukang ramal, nujum dan yang sejenisnya. Oran gyang seperti ini akan kehilangan semangat hidup, kemudian hidup dalam ketakutan dan pada akhirnya hilang pulalah makna dari kehidupannya. Orang-orang ini lah yang tidur di rumah sambil menunggu adanya hujan uang dari langit. Mereka pulalah yang menjadikan orang lain dan nasib sebagai alasan bagi semua kesulitan yang dihadapi.

Melalui buku ini, Liao Fan, sang penulis menjelaskan tentang apa makna yang sebenar dari takdir dan bagaimana seharusnya hidup dan memperjuangkannya. Takdir tidak lain merupakan karma masa lalu yang berubah. Memahami prinsip tentang takdir atau hukum karma sangatlah penting bagi kehidupan agar kita tidak terjatuh dalam kedua ekstrim di atas. Dengan memahami hukum karma ini juga santar penting sebagai pegangan hidup kita.

Cina, sebuah negara yang sangat luas dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, dalam sejarahnya pernah menikmati kedamaian dan harmoni antar penduduknya untuk waktu yang sangat panjang. Ini adalah bgerkat kehidupan spiritual dan moral yang terpatri dalam kehidupan sehari haripenduduknya. Cina terlalu luas untuk dapat diperintah secara efektif, oleh orang, hukum, kerajaan maupun cara apapun juga, Yang mewujudkan semua keharmonisan tadi hanyalah pemahaman yang tergambar dalam pepatah:

"Jika Anda menanam benih labu, maka Anda akan memanen labu, dan untuk dapat memanen kacang, tanamlah kacang."

Pemahaman ini tertanam dalan kesadaran setiap orang, sehingga setiap orang yakin bahwa "perbuatan baik akan membuahkan hasil yang baik." Dan sebenarnya itulah penjelasan secara mudah tentang hukum karma.

Yen Liao Fan sebenarnya menuliskan karua ini untuk putranya. Sampai saat ini, lima ratus tahun sudah dituliskan, karya ini tetap menjadi salah satu buku yang paling populer. Walaupun ada bagian-bagian tertentu, tulisan ini hanya relevan dalam konteks zaman Dinasti Ming, tetapi secara keseluruhan, karya ini tetap merupakan suatu panduan yang sangat praktis dalam kehidupan sekarang ini. Karya ini secara gamblang menjelaskan pandangan "orang cina" dan moralitas-nya yang sangat berharga untuk dipelajari.

Dalam usia muda, Liao Fan bertemu dengan orang yang dapat meramalkan masa depan kehidupannya dan kemudian ternyata apa yang diramalkan semuanya terbukti. Hal ini mengakibatkan Liao Fan mempunyai anggapan bahwa dalam kehidupan, tidak ada lagi yan gperlu diperjuangkan karena semua akan berjalan sesuai dengan suratan takdir. Untunglah kemudian Liao Fan bertemu dengan orang yang dapat meyakinkannya bahwa takdir tidak berlaku sepenuhnya. Walaupun takdir berlaku, tetapi tiap manusia yang menjalaninya mempunyai kuasa untuk mengubahnyas. Orang yang karma dalam kehidupan sebelumnya tidak baik, akan berbuah dengan kehidupan dalam penderitaan pada kehidupan yang sekarang. Tetapi dengan berbuat kebajikan, memupuk perilaku dan pandangan yang baik, maka perlahan tapi pasti kehidupan juga akan semakin membaik dan akhirnya keluar dari penderitaan, Sama seperti Liao Fan yang akhirnya juga mampu keluar dari takdirnya yang kurang baik.

Langkah awal untuk menguasai takdir adalah pertobatan. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kehidupannya sudah bebas dari kesalahan dan kebiasaan buruk, maka kemungkinan besar orang tersebutlah yang kuran gpeka sehingga tidak menyadari kesalahan sendiri, Seharusnya dalam kehidupan sehari-hari perlu dilakukan introspeksi. Jika menyadari adanya kesalahan, perlakukanlah kesalahan kecil seperti seiiris bambu yang menusuk ke bawah kulit, yang harus segera dicabut. Dan juka menyadari kesalahan yang besar, perlakukanlah ia seolah-olah gigitan ular berbisa, yan gjika perlu jari-pun harus segera dipotong untuk menghalanginya menjalar ke bagian tubuh lain. Liao Fan menjelaskan tentang sifat-sifat yang harus dimiliki dalam pertobatan dan bagaimana seharusnya pertobatan dilakukan.

Liao Fan juga memberikan berbagai contoh tentang cara untuk memupuk kebajikan. Kebajikan sendiri terbagi berjenis jenis. Ada yang besar dan ada yang kecil, ada yang sesungguhnya dan ada yang berpamrih, ada yang dilakukan tanpa terlihat dan ada yang sengaja dilakukan untuk dilihat. Semuanya perlu dipahami agai kita tidak terjebak dalam sesuatu yang dikira sebagai kebajikan, tetapi ternyata tidak lebih dari suatu kepalsuan.

Pada bagian akhir, Liao Fan menekankan perlunya sifat rendah hati. Karena hanya oran gyang rendah hati yang akan dapat maju dan berhasil. Sebaliknya jika menyombongkan diri, maka dapat dipastikan tidak akan mempunyai kebahagiaan dalam kehidupan.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan semata tidak akan mampu menjawab semua masalah-masalah tentang kemanusiaan yang dusah sedemikian mendesak. Dalam kemajuan teknologi dab ilmu pengetahuan, sering kita terlena dan mengabaikan pembangunan moral. Masalah-masalah ini hanya daoat dijawab dengan pembangunan kesadaran spiritual yang sama pesatnya dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Dalam usaha ini, semoga karya Liao Fan yang mengungkapkan keunggulan moralitas pada zamannya dapat berkontribusi dan dipraktekkan dalam suatu konteks yang baru.

Bab 1. Membangun nasib

“Menghindari segala perbuatan tidak baik dan mempraktekkan segala yang baik, akan mengurangi bencana dan mendatangkan kebaikan“Orang berbuat baik, manfaatnya belum kita terima, tetapi bencana sudah menjauhi, orang berbuat kejahatan, bencana belum menimpa, akan tetapi manfaat baik yang telah kita miliki sudah menjauh”.


BAB I. BAGAIMANA MEMBANGUN NASIB


Membangun nasib adalah untuk membentuk nasib daripada terikat olehnya. Pelajaran ini adalah membicarakan tentang prinsip dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengubah nasib. Berdasarkan pengalamannya, Liao Fan mengajarkan anaknya jangan terikat nasib dan berusaha sebaik mungkin melaksanakan kebaikan serta menghindarkan segala erbuatan tidak baik. “Seseorang seharusnya tidak menolak melakukan perbuatan baik yang sekecil apapun dan berani berbuat sesuatu kesalahan, yang dianggap adalah hanya suatu kesalahan kecil”. Bila seseorang melakukan sesuatu yang baik, sudah pasti nasibnya akan berubah, seperti kata pepatah :

“Menghindari segala perbuatan tidak baik dan mempraktekkan segala yang baik, akan mengurangi bencana dan mendatangkan kebaikan” atau “Orang berbuat baik, manfaatnya belum kita terima, tetapi bencana sudah menjauhi, orang berbuat kejahatan, bencana belum
menimpa, akan tetapi manfaat baik yang telah kita miliki sudah menjauh”.

Ini adalah prinsip yang harus senantiasa diingat untuk membangun nasib.Sejak kecil saya telah kehilangan ayah, ibu menganjurkan saya untuk belajar ilmu pengobatan, selain untuk menghidupi diri sendiri dan menyembuhkan orang lain, juga merupakan keinginan ayah saya. Maka saya belajar ilmu pengobatan untuk memenuhi kehendak ibu. Pada suatu hari di Vihara Che Yin She, saya bertemu seseorang yang sudah tua, berpenampilan anggun bagaikan seorang malaikat, ia berkata: “Anda ditakdirkan sebagai seorang pejabat, tahun depan anda adalah seorang “Siu Chai” (Gelar seorang siswa setelah lulus ujian di Kabupaten), mengapa tidak belajar?”

Saya memberitahukan alasannya, serta menanyakan nama dan asal usulnya. Orang tua itu berkata: “Nama keluarga saya Khong, berasal dari propinsi Yin Nan, ahli ilmu Sau Tze Huang Cik Cing Se (Sejenis ilmu Tiongkok kuno untuk meramal), ditakdirkan untuk diwariskan kepada anda.”

Saya memberitahu ibu hal ini dan mengundang Tuan Khong pulang serta menetap sementara di rumah. Ibu ingin saya melayani Tuan Khong dengan baik, setelah menguji keahlian menghitung, meramal nasib saya, ternyata segala hal besar/kecil yang diramalnya adalah tepat sekali, sehingga saya percaya dan mulai belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian “Siu Chai”. Tuan Khong meramalkan lagi bahwa untuk ujian tingkat Kabupaten, untuk gelar “Thun Sen” akan mendapat ranking 14, untuk ujian tingkat Kotamadya akan mendapat ranking 72, ujian di tingkat Propinsi mendapat ranking 9.

Tahun berikutnya, saya mengikuti ujian di 3 lokasi dan lulus tepat sesuai ranking yang diramalkan Tuan Khong. Oleh karena itu saya mohon diramalkan nasib seumur hidup. Tuan Khong meramalkan, bahwa pada ujian tahun x saya akan mendapat ranking ke berapa, tahun y akan mendapat tambahan tunjangan makanan dari pemerintah, tahun z akan mendapat gelar “Kung Sen”, pada tahun xx akan diangkat sebagai Bupati di propinsi She Cuan selama 3,5 tahun dan meletakkan jabatan pulang kampung. Meninggal pada umur 53 tahun, tanggal 14 Agustus diantara jam 1-3 pagi dan tidak mempunyai anak. Sejak itu, semua ujian yang saya ikuti lulus dengan ranking seperti Tuan Khong ramalkan. Tuan Khong juga meramalkan bahwa saya akan menerima tunjangan beras dari pemerintah (dahulu gaji dibayar dengan beras, bukan uang) sebesar 91 she 5 thou, baru akan naik pangkat “Kung Sen”, tetapi waktu menerima gaji 70 she, saya sudah naik pangkat sebagai “Kung Sen”, karena itu saya mulai meragukan ketepatan ramalan Tuan Khong, tetapi tidak diduga surat permohonan untuk mengisi lowongan “Kung Sen” ditolak, sampai tahun Ting Mau atasan dari penguji menemukan bahwa hasil ujian saya yang mengandung usulan-usulan serta pandangan kepada pemerintah baik sekali dan tidak tega memendam bakat seseorang, maka memerintahkan untuk mengajukan permohonan secara resmi ke pejabat penguji. Kenaikan pangkat “Kung Sen” tersebut dihitung kembali, tunjangan beras yang saya terima tepat 91 she 5 thou.

Sejak peristiwa ini saya percaya pada takdir, semua sudah ditentukan sejak kita dilahirkan, sehingga saya menjadi pasif terhadap kehidupan ini, tidak bergairah dan tidak menuntut. Setelah terpilih sebagai pelajar negara, saya belajar di sebuah Universitas Beijing. Selama 1 tahun tinggal di Ibukota, saya tertarik akan meditasi dan selalu duduk tenang tanpa pikiran, kehilangan minat belajar dan sama sekali tidak belajar lagi.

Sebelum masuk Universitas Nanjing, saya mengunjungi seorang guru aliran Zen yang bernama Yun Gu di gunung Chishia. Kami duduk berhadapan di ruang meditasi selama 3 hari 3 malam tanpa tidur. Guru Yun Gu lalu bertanya: “Sebagai penyebab orang awam tidak dapat menjadi orang arif adalah terlalu banyak pikiran kacau balau, terlalu banyak keinginan serta terikat oleh nafsu-nafsu indranya. Selama 3 hari meditasi kita, menurut observasi saya, tidak sehelai jua pikiran dan nafsu tidak baik timbul pada diri anda, mengapa?”

Saya menjawab: “Tuan Khong telah meramal seluruh nasib kehidupan saya, promosi, jabatan, keuntungan, kegagalan, kematian semua telah ditakdirkan, tidak ada gunanya lagi bagi saya berpikir untuk menginginkan sesuatu, itu sebabnya tidak sehelai jua pikiran timbul dalam meditasi’.

Guru Yun Gu tertawa dan berkata : “Saya kira anda seorang luar biasa yang telah melatih diri untuk mencapai taraf ini, sekarang saya sadar bahwa anda tidak lain juga seorang manusia awam”. Saya merasa heran dan memohon Guru Yun Gu menjelaskannya apakah seseorang dapat luput dari nasibnya, Beliau menjawab: “Manusia awam otaknya selalu dipenuhi oleh pikiran kacau dan angan-angan, sudah tentu mereka terikat oleh Chi dari Yin dan Yang sebagai penentuan yang disebut sebagai takdir. Kita tidak dapat mengingkari bahwa takdir itu ada, akan tetapi hanya manusia awamlah yang terikat olehnya. Takdir tidak dapat mengikat orang yang berbuat banyak kebaikan.”

“Karena akumulasi banyak kebajikan, maka akan mengubah takdir menjadi lebih baik. Nasib dibuat sendiri, penampilan seseorang bersumber dari hati, bencana dan keberuntungan tanpa pintu, manusia sendirilah yang mengundangnya”.

Akumulasi kebajikan yang banyak sudah pasti akan mengubah nasib buruk menjadi baik, yang miskin menjadi kaya, pendek umur menjadi panjang umur. Hal yang sama nasib juga tidak dapat mengikat mereka yang banyak membuat kejahatan. Bila seseorang membuat banyak kejahatan, keberuntungan yang dibawa sejak lahir (takdir) akan berubah menjadi bencana.

Selama 20 tahun anda hidup sesuai dengan apa yang diramalkan Tuan Khong dan tidak membuat sesuatu untuk mengubahnya dan terikat oleh nasib anda sendiri. Saya bertanya: “Menurut guru, apakah seseorang dapat mengubah nasibnya dan melepaskan diri dari takdir?” Guru menjawab: “Kita membentuk nasib sendiri, baik atau buruk juga ditentukan oleh diri sendiri. Bila saya berbuat jahat, bencana akan menimpa saya, bila saya berbuat baik, maka keberuntungan akan datang kepada saya. Tertulis juga dalam buku kebijakan kuno, bila seseorang menginginkan kekayaan, reputasi, anak laki/perempuan, panjang umur, ia akan mendapatkannya, hanya dengan membuat banyak kebajikan untuk melepaskan diri dari genggaman nasib. Mencius pernah mengemukakan bahwa apa yang kita inginkan dapat tercapai dan kita sendiri yang harus melaksanakan, ini adalah yang berkaitan dengan kebajikan, kebaikan moralitas diri sendiri, akan tetapi yang berkaitan dengan kekayaan, kejayaan, reputasi, itu adalah harus melalui pemberian orang lain, bagaimana kita memperolehnya?”

Guru berkata lagi: “Perkataan Mencius benar, tetapi anda belum menangkap arti sebenarnya. Hui Neng (guru besar dari aliran Zen) pernah mengajarkan: “Semua ladang kebajikan berada di hati, bila kita mencari dari dalam diri, semuanya dapat tercapai, perbuatan baik akan mengundang keberuntungan dan perbuatan tidak baik akan mengundang bencana. Keberuntungan dan bencana tidak lain tidak bukan hanyalah refleksi dari dalam diri kita sendiri. Bila kita mencari dalam diri kita, bukan hanya menemukan kualitas sifat luhur jati diri, tetapi juga kekayaan, reputasi serta segala keinginan duniawi dan akhirat”.

Bila segala keberuntungan memang sudah ditakdirkan milik kita, kita akan memperolehnya walaupun tidak mengejarnya, akan tetapi bila tidak demikian, walaupun dengan cara menipu, mencuri, berusaha mati-matian mengejarnya kita tidak akan memperolehnya.

Guru berkata lagi : “Bila seseorang mencari keberuntungan dari luar bahkan berbuat kejahatan untuk memperolehnya, dia tidak hanya kehilangan segala budi baiknya, tetapi termasuk segala keberuntungan yang ditakdirkan menjadi miliknya, lebih-lebih lagi ketamakan, kebencian yang berada dalam benak seseorang akan mengurangi keberuntungannya, karena itu kita harus sadar, bahwa tidak ada gunanya bila kita dengan membabi buta mencari keberuntungan. Apa yang diramalkan Tuan Khong tentang kehidupan anda?”

Saya memberitahukan semua yang diramalkan Tuan Khong tentang saya kepada guru. Guru bertanya: “Apakah anda merasa berhak mendapat posisi di pemerintahan atau seorang anak?” Setelah lama mengintrospeksi perbuatan dan sikap saya masa lalu. Saya menjawab: “Tidak, saya tidak berhak mendapat posisi di pemerintah atau seorang anak, mereka yang mendapat posisi di pemerintah, semua mempunyai penampilan yang baik sedangkan saya tidak, saya juga tidak banyak membuat kebajikan untuk membangun nasib baik, saya tidak sabar dan tidak displin, bicara seenaknya tanpa memperdulikan perasaan orang lain, sombong dan bangga diri. Semua ini adalah tanda-tanda bahwa saya tidak bernasib baik juga tidak berbudi, bagaimana mungkin saya mendapat posisi di pemerintah.”

Selanjutnya, kita lihat mengapa Tuan Liau Fan tidak mempunyai anak.


Menyenangi kebersihan adalah baik, tetapi merupakan suatu problem jika kesenangan tersebut sudah melampaui batas. Seperti pepatah kuno “Kehidupan akan tumbuh dari debu bumi, air yang terlalu jernih tidak menghasilkan ikan”.


Alasan saya tidak berhak mendapat anak adalah: pertama saya terlalu menyenangi kebersihan, mengakibatkan kurang memperhatikan orang lain. Alasan kedua adalah saya cepat marah dan emosi. Keharmonisan adalah suatu latihan untuk semua kehidupan, kasih sayang dan kebajikan adalah dasar untuk memproduksi dan kemarahan/emosi adalah sumber kegersangan. Alasan ketiga adalah saya terlalu mementingkan reputasi dan tidak mau berkorban apapun untuk kepentingan orang lain. Alasan keempat adalah saya berbicara terlalu banyak sehingga mengkonsumsi terlalu banyak “Chi” (energi). Alasan kelima adalah saya suka minum alkohol yang mengikis semangat saya. Untuk tetap sehat, seseorang seharusnya tidak bergadang sepanjang malam tanpa istirahat/tidur. Alasan keenam saya tidak mempunyai anak adalah saya suka bergadang sampai larut malam, tidak memelihara energi, selain ini saya masih mempunyai banyak kesalahan yang terlalu banyak jika diutarakan. “

Guru berkata: “Lalu menurut anda, ada banyak hal di dunia ini yang anda tidak pantas memilikinya, tidak hanya reputasi dan anak?”


Mereka yang memiliki jutaan dollar pada kehidupan ini, pasti telah mengumpulkan banyak kebajikan berdana pada masa lalunya. Mereka yang memiliki ribuan dollar juga karena telah mengumpulkan perbuatan baik sebanyak itu. Mereka yang meninggal karena kelaparan, sebenarnya adalah karena karmanya harus meninggal dalam keadaan demikian. Mereka harus jelas bahwa pikiran dan perbuatan masa lampau merekalah yang membentuk nasibnya. Akibat yang kita terima sekarang hanyalah hasil perbuatan diri sendiri. Yang Kuasa tidak berbuat lebih dari hanya menghukum yang jahat sesuai apa yang pantas diterima dan menganugerahi keberuntungan yang pantas bagi yang berbuat baik.


Bencana dan keberuntungan adalah dibuat oleh diri sendiri. Orang bijak sadar bahwa keberhasilan atau kegagalan hidupnya adalah konsekwensi dari perbuatan dan pikiran sendiri, hanya orang awam yang menganggap semua ini adalah nasib/takdir.

Guru berkata: “Melahirkan anak adalah sama dengan buah tumbuh dari bibit, bila bibit ditanam dengan baik, buahnya subur, bila ditanam dengan tidak baik, buahnya juga tidak subur. Sebagai contoh: seseorang bila mengumpulkan kebajikan untuk ratusan generasi, maka ratusan generasi turunannya akan menikmatinya, bila hanya mengumpukan kebaikan untuk 10 generasi, maka hanya 10 generasi turunannya yang menikmati, demikian juga yang 3 generasi dan 2 generasi. Bagi mereka yang tidak mempunyai keturunan, karena mereka tidak membuat kebajikan, sebaliknya memiliki banyak kekacauan. Sekarang anda menyadari kekurangan anda, anda boleh berusaha untuk mengubah apa yang menyebabkan anda tidak mempunyai anak dan posisi di pemerintah, anda harus berbuat baik, sabar, memperlakukan orang lain penuh kasih sayang, harmonis, rawatlah kesehatan, memelihara energi dan semangat anda. Anggaplah bahwa semua yang lalu sudah berakhir kemarin, masa depan dimulai hari ini. Bila anda mempunyai persepsi ini, maka anda adalah seorang yang baru lahir. Bahkan walaupun bila badan kita terikat oleh nasib, bagaimana mungkin pikiran baik dan disiplin tinggi tidak mendapat perhatian Yang Kuasa? Sesuai yang tercantum dalam buku sejarah Tiongkok . . . . . . . .Seseorang mungkin dapat melepaskan diri dari takdir asalnya, tetapi seseorang tidak pernah dapat melepaskan diri dari bencana atas kejahatan yang telah dilakukannya. Dengan kata lain, setelah seseorang dapat mengubah nasib hasil perbuatan masa lampau, tetapi bila seseorang terus menerus bertingkah laku amoral, maka tidak akan ada kesempatan untuk menghindari dari bencana berat.

Guru berkata: “Seperti tertulis dalam buku syair : Manusia harus selalu instrospeksi diri apakah pikiran dan perbuatan sesuai dengan hukum alam dan kehendak Yang Kuasa. Bila seseorang mempraktekkan cara ini, niscaya keberuntungan akan diperoleh tanpa dicari. Untuk memilih keberuntungan atau sebaliknya adalah tergantung pada diri sendiri. Tuan Khong telah meramal bahwa anda tidak mendapat posisi di Pemerintah dan seorang anak. Kita dapat menganggap ini adalah takdir, tetapi itu dapat dirubah. Anda hanya perlu mengubah kebiasaan buruk anda. Praktekkan kebaikan untuk mengumpulkan kebajikan. Ini adalah usaha anda untuk membangun nasib baik, tidak ada orang yang dapat merampas dari anda. Bagaimana mungkin anda tidak dapat menikmatinya?


Dalam buku I Ching (buku tentang perubahan) tertulis : membantu orang akan membawa keberuntungan dan menghindari bencana! Pada bab pertama buku I Ching juga tertulis: “Keluarga yang membuat kebajikan akan mewariskan keberuntungan kepada anak cucunya. Anda percaya itu?”

Saya mengerti dan percaya apa yang diajarkan guru dan memberi penghormatan yang besar kepadanya. Lalu saya menyesali segala perbuatan2 buruk masa lalu, besar atau kecil. Saya menulis keinginan saya untuk lulus dalam ujian negara dan bersumpah akan membuat tiga ribu jenis kebajikan untuk menunjukkan rasa terima kasih dan syukur kepada Leluhur, Langit dan Bumi. Setelah mendengar sumpah saya, guru Yun Gu memberikan saya satu daftar dan mengajarkan saya bagaimana mencatat perbuatan baik dan tidak baik yang telah saya janjikan. Beliau memberitahukan bahwa perbuatan buruk akan menetralisir perbuatan baik yang telah saya kumpulkan.

Bila seseorang berkeinginan sesuatu untuk mengubah nasib, yang terpenting adalah pikiran yang tenang, dengan cara ini, keinginan tersebut dapat tercapai. Mencius menulis dalam bukunya yang berjudul: “Prinsip untuk membentuk nasib bahwa tidak ada perbedaan antara panjang umur dan pendek umur”, sekilas pandang, seseorang akan merasa sangat sulit untuk dimengerti, bagaimana panjang umur dan pendek umur itu sama?

Sebenarnya bila kita melihat ke dalam diri kita, kita akan menemui tidak ada perbedaan. Kita memandangnya dari segi persamaan dan hidup bermoral tanpa memperdulikan saat yang baik atau buruk, bila seseorang dapat mempraktekkan sesuai, niscaya seseorang dapat menguasai kekayaan dan kemiskinan. Oleh sebab itu, bila seseorang sanggup membangun dan membentuk nasib sendiri, tidak ada masalah apakah saat ini kita kaya atau miskin.Seperti seorang yang kaya raya tidak berbuat sembrono karena dia kaya, dan seorang yang miskin tidak berbuat kejahatan karena dia miskin, dalam hal yang sama, seseorang harus melaksanakan tanggung jawabnya untuk tetap sebagai seorang manusia sejati.

Guru berkata: “Jika seseorang dapat mempraktekkan moralitas dalam kondisi apapun, sudah tentu dia akan mengubah miskin menjadi kaya, yang kaya dapat mempertahankan kekayaannya lebih lama. Demikian juga pandangan yang sama terhadap panjang umur dan pendek umur, seseorang yang mengetahui bahwa dia berumur pendek seharusnya tidak berpikir: Saya sudah harus meninggal, tidak perlu berbuat kebajikan, saya akan mencari keuntungan dengan mencuri dan membunuh sewaktu saya masih sanggup. Sebaliknya, seseorang yang sudah mengetahui bahwa dia akan berumur pendek, harus lebih rajin melatih diri untuk membuat kebajikan, untuk memperoleh umur yang panjang pada kehidupan yang akan datang dan mungkin dengan melaksanakan banyak kebaikan bahkan dapat memperpanjang umurnya sekarang. Seseorang yang panjang umur janganlah berpikir, bahwa saya masih banyak waktu di dunia ini, tidak masalah bila sesekali berbuat kesalahan”.

Mendapat umur panjang tersebut tidak mudah, malahan harus lebih giat berbuat kebajikan dan melatih budi luhur diri, kalau tidak, kita akan cepat menghabiskan umur yang panjang tersebut karena dikompensasikan dengan tindakan amoral.

Guru berkata: “Seseorang yang mengerti prinsip ini, akan mengubah umur pendek menjadi umur panjang melalui sikap luhur dan kebajikan. Masalah hidup dan mati adalah hal yang paling kritis dalam kehidupan. Oleh sebab itu, umur panjang atau pendek juga merupakan hal yang terpenting bagi kita. Demikian juga masalah kaya dan miskin, reputasi baik dan jelek”.

Itu sebabnya Mencius tidak menjelaskan lagi masalah kaya/miskin, reputasi baik/jelek tersebut di atas, karena Beliau telah menjelaskan tentang umur panjang dan umur pendek dan itu adalah hal yang sama prosesnya.

Lalu guru mengajarkan kepada saya ajaran Mencius tentang pelatihan diri. Seseorang yang ingin melatih diri, harus melaksanakan setiap hari dan setiap saat, waspada akan perbuatan sendiri, meyakinkan diri bahwa setiap perbuatan dan pikiran itu tidak melanggar hukum/ peraturan, ingat bahwa untuk mengubah nasib adalah tergantung kepada akumulasi kebajikan, agar mendapat berkah dari Yang Kuasa. Saat melatih diri, seseorang harus sadar akan kesalahan yang telah diperbuatnya dan segera berusaha mengoreksinya/ mengaku salah persis seperti kita mengobati diri saat sakit. Ketekunan adalah faktor utama dalam pelatihan ini dan bila hal ini telah matang segera kita menerima hasilnya. Saat ini, nasib seseorang sudah pasti berubah menjadi lebih baik. Kita harus berusaha menghapus semua kebiasaan dan pikiran yang buruk. Kita akan benar-benar mendapat manfaat yang nyata bilamana kita telah mencapai ke tingkatan “tanpa pikiran”.

Tadinya saya bernama Shuei Hai, yang berarti “berpengetahuan luas” setelah menerima ajaran guru ini, saya mengubah nama menjadi Liau Fan yang berarti “Melampaui/menyadari keadaan umum”, menunjukkan bahwa pengertian saya akan kebenaran untuk mengubah nasib sendiri dan saya tidak ingin menyerupai manusia biasa yang membiarkan diri dikontrol nasib. Sejak itu, saya selalu waspada akan semua pikiran dan perbuatan saya. Saya sangat hati-hati dan teliti dalam pikiran dan pengambilan tindakan, sehingga saya merasa telah berbeda dari sebelumnya. Dahulu, saya selalu sembrono, tidak konsentrasi dan saya sama sekali tidak disiplin.

Sekarang, saya sangat teliti dan hati-hati berpikir, berbicara dan berbuat, saya bahkan mempertahankan sikap ini pada saat bila sedang sendirian, karena saya sadar Yang Kuasa, Dewa, Malaikat yang berada di mana-mana sedang mengawasi segala pikiran dan tindakan saya. Bahkan bila bertemu dengan orang yang tidak menyenangi dan mencaci maki saya, saya dapat menerima dengan sabar dan tenang, tidak ada perasaan unuk melawan atau bertengkar dengan mereka.

Setahun setelah saya menemui Tuan Khong, saya mengikuti ujian dasar negara, yang mana Tuan Khong meramal bahwa saya akan mendapat ranking 3, ternyata saya mendapat ranking pertama, ramalan Tuan Khong tidak akurat lagi. Tuan Khong meramal bahwa saya sama sekali tidak akan lulus dalam ujian akhir negara, tetapi pada musim gugur, saya berhasil lulus. Ini adalah di luar takdir saya, tetapi saya mendapatkannya.

Guru berkata: “Nasib dapat dirubah”.Sekarang saya lebih mempercayainya! Walaupun saya telah banyak mengoreksi kesalahan saya, saya menemukan bahwa saya tidak dapat sepenuh hati melakukan sesuatu, walaupun saya melaksanakannya, tetapi masih merasa terpaksa dan tidak dengan hati yang tulus. Saya mengintrospeksi ke dalam diri dan menemukan masih banyak kekurangan.Banyak orang mempunyai kesempatan membuat kebajikan, tetapi tidak antusias membuatnya atau ragu-ragu bila sedang membantu sesama yang memerlukan bantuan tersebut.

Kadang-kadang saya memaksa diri berbuat baik, tetapi ucapan saya masih tidak ramah dan penuh emosi, saya masih dapat berlaku baik bila sedang tenang, tetapi setelah minum alkohol, saya akan kehilangan disiplin dan bertindak tanpa dapat mengontrol diri. Walaupun saya selalu praktekkan kebajikan dan mengumpulkan pahala, tetapi kesalahan dan kekurangan saya sangat banyak sehingga menghapuskan perbuatan baik saya. Waktu saya banyak terbuang sia-sia dan tidak berharga, saya memerlukan waktu 10 tahun untuk mencapai 3.000 jenis kebaikan yang saya janjikan.

Saya memohon untuk mendapat anak dan berjanji akan membuat 3.000 jenis kebajikan lagi, beberapa tahun kemudian mama anda melahirkan anda dan memberi nama Tian Chi.Setiap kali saya melakukan satu kebaikan, saya mencatat di sebuah buku, mama saya buta huruf, menggunakan bulu angsa sebagai pena dan mencelup ke dalam tinta membuat satu lingkaran merah di kalender untuk menandai setiap perbuatan baik yang telah dilakukannya. Kadang kala dia memberi makanan kepada orang miskin, atau membeli binatang di pasar lalu melepaskannya di hutan, dia mencatat semua ini dengan lingkaran merah di kalender, dia sering dapat mengumpulkan lebih dari 10 lingkaran merah dalam satu hari.

etiap hari kami mempraktekkan ini selama empat tahun, 3.000 kebajikan dapat diselesaikan. Sekali lagi saya membuat persembahan di rumah kita. Pada tanggal 13 September tahun yang sama, saya membuat permohonan ketiga, untuk lulus dalam ujian pada level “Jinshr”. Saya berjanji akan membuat 10.000 kebaikan, tiga tahun kemudian permohonan saya tercapai, saya lulus ujian level Jinshr, dan diangkat sebagai Bupati di Propinsi Baodi. Di kantor, saya menyediakan sebuah buku kecil untuk mencatat kebaikan dan kesalahan yang telah saya buat dan menamakannya “Buku Disiplin Pikiran”. Buku tersebut dinamai “Buku Disiplin Pikiran” dengan harapan untuk membantu Tuan Liao Fan menghindari diri dari keegoisan dan pikiran-pikiran tidak baik. Sejak hari itu, saya mencatat semua perbuatan baik dan buruk saya dalam buku tersebut dan meletakkannya di atas meja saya. Setiap petang saya membakar dupa di sebuah altar kecil di kebun untuk melaporkan segala perbuatan saya kepada Yang Kuasa. Suatu kali, mama saya sangat prihatin ketika melihat saya tidak dapat membuat banyak kebaikan dan bertanya: “Dahulu kala, saya dapat membantu anda membuat banyak kebaikan dan sanggup menyelesaikan 3.000 kebaikan. Sekarang, anda berjanji akan membuat 10.000 kebaikan, di kantor ini kesempatan kita untuk berbuat kebaikan sangat kecil, berapa lama janjimu dapat dipenuhi?”

Malam itu, setelah mama saya berkata hal ini, saya bermimpi bertemu dengan seorang malaikat dan saya mengatakan masalah saya dalam menyelesaikan 10.000 kebajikan tersebut. Malaikat tersebut berkata: “Ketika anda menjabat sebagai Bupati, anda menurunkan pajak untuk sewa ladang bagi para petani, itu adalah kebajikan yang besar sekali, pahala ini telah mencakup 10.000 kebajikan yang anda janjikan, janji anda telah terpenuhi”. Memang petani di Propinsi Baodi harus membayar pajak yang sangat tinggi ketika saya tiba di sana. Saya menurunkan pajak atas ladang padi tersebut hampir setengahnya, akan tetapi saya masih merasa aneh… Bagaimana malaikat tersebut mengetahui tentang penurunan pajak tersebut? Tuan Liao Fan tetap meragukan dan heran bagaimana hanya sebuah perbuatan dapat menandingi 10.000 kebajikan.

Kebetulan, guru besar aliran Zen, Huang Yu sedang melakukan perjalanan ke gunung U Thai dan singgah di Baodi, saya mengundangnya ke rumah, menceritakan tentang mimpi dan bertanya apakah itu dapat dipercaya? Guru Huan Yu berkata: “Ketika membuat kebaikan, seseorang harus jujur dan tulus serta tidak mengharapkan balasan atau bertindak salah. Bila seseorang membuat kebaikan dengan jujur dan tulus, tentu saja hanya satu perbuatan dapat dibandingkan 10.000 kebajikan. Selain itu, tindakan anda dengan menurunkan pajak di Propinsi ini, bermanfaat bagi lebih dari 10.000 penduduk, anda telah meringankan penderitaan rakyat karena harus membayar pajak yang tinggi. Anda sudah pasti akan memperoleh keberuntungan yang sangat besar dari tindakan ini”.

Setelah mendengar kata-kata guru Huan Yu, hati saya dipenuhi oleh perasaan bersyukur dan segera memberikan semua tabungan saya kepada Beliau untuk dibawa ke gunung U Thai, saya memesan agar uang itu dipergunakan untuk mempersembahkan makanan Vegetarian bagi 10.000 Bhiksu dan membantu saya menyalurkan pahala atas tindakan ini.Dari tindakan Liao Fan ini, dapat dinilai bahwa Beliau adalah seorang dermawan yang dapat bertindak cepat, MEMBERI tanpa sedikit juga keraguan dan perasaan terpaksa, inilah penyebab Beliau memperoleh keberuntungan raksasa yang tidak ternilai. Liao Fan bukan berasal dari keluarga kaya, Beliau percaya hukum karma, Beliau adalah seorang pejabat yang taat hukum dan bersih, tidak KKN, tidak mau mengambil uang haram. Hasil seorang pejabat negara seberapa? Tetapi Beliau rela dan segera menyumbangkan seluruh tabungannya, ini adalah sebuah tindakan luar biasa yang sulit ditemui.

Tuan Khong telah meramalkan bahwa saya akan meninggal pada umur 53 tahun, tetapi saya tetap hidup sampai sekarang 69 tahun tanpa menderita penyakit apapun, walaupun saya tidak memohon panjang umur dari Yang Kuasa. Sekarang saya berumur 69 tahun, dan telah hidup lebih 16 tahun dari yang telah ditakdirkan. Dalam buku Su Ching Tiongkok tertulis . . . “Hukum alam tidak mudah dipercaya dan tidak mungkin tetap saja/tidak berubah, terlebih-lebih takdir tidak mungkin tidak berubah”.


Sejak itu saya percaya, orang yang berkata bahwa bencana dan keberuntungan adalah takdir, pasti dia adalah seorang awam, jika dia berkata bahwa bencana dan keberuntungan adalah tergantung kepada hati masing-masing individu, berbuat kebaikan akan mendapat nasib yang baik, orang ini pasti seorang manusia sejati, seorang bijak dan seorang Nabi.


Tian Chi anakku, saya tidak mengetahui perjalanan kehidupan anda bagaimana? Akan tetapi kita selalu bersiap untuk menghadapi keadaan yang paling jelek, karena itu, walaupun dalam keadaan makmur, tetaplah hidup sederhana, bila segala sesuatu berjalan lancar, tetaplah bersikap mawas diri dan waspada, bila anda kaya raya, tetaplah hidup hemat dan sederhana, bila disayangi/didukung orang, janganlah sombong, bila dijunjung tinggi/ dihormati orang, janganlah membanggakan diri, bila anda berpendidikan tinggi dan berpengetahuan luas, tetaplah menghormati orang, jangan malu bertanya, karena setiap orang pasti ada kelebihannya yang tidak kita ketahui, pasti ada orang yang lebih pintar, lebih hebat dari kita. Selalulah laksanakan sedemikian rupa, berpegang teguh pada moralitas, kontrol diri, maka kita akan memiliki budi luhur, mengubah nasib dan mendapat berkah.

Selalu melatih diri agar nama baik leluhur tidak tercemar, setiap hari berusaha memperbaiki serta menebus dosa orang tua, ke atas selalu ingat jasa negara dan masyarakat yang telah membimbing kita, ke bawah berusaha mensejahterakan istri anak, selalu bersiap untuk membantu orang yang memerlukan, selalu berdisiplin ketat terhadap diri, selalu instropeksi dan mengoreksi diri. Suatu saat bila anda merasa puas dalam keadaan begini, menganggap diri adalah seorang yang sempurna, tidak mempunyai kesalahan/kekurangan, maka anda telah mengalami kemunduran. Orang-orang pintar di dunia karena merasa diri adalah orang sempurna sehinga menolak melatih moralitas dan membentuk akhlak yang baik, tidak dapat memajukan usahanya, semua ini karena kelengahan mereka, malas dan hanya menginginkan kesenangan.

Tian Chi, ajaran Guru Yun Gu benar-benar sangat tepat dan berbobot, sebagai manusia sepantasnyalah giat mempelajarinya, tekun mempraktekkannya, bijaklah mempergunakan setiap detik waktu anda untuk melatih diri, mengisi diri, jangan menyia-nyiakannya.”Nilai suatu kehidupan bukanlah berdasarkan seberapa banyak yang kita dapat, melainkan berdasarkan seberapa banyak kita telah memberi kepada yang benar-benar memerlukan”.

Bab 2 - Cara Mengubah Nasib

Pada zaman Chun Ciu (tahun 722 SM - 481, zaman musim semi dan rontok) banyak penasehat yang mampu menebak dengan tepat rejeki dan bencana yang akan dialami seseorang, hal ini juga tertulis di buku Cho Chuan dan buku syair lainnya. Pada umumnya, seseorang akan mendapat rejeki atau menanggung bencana pasti ada gejala sebelumnya yang bersumber dari dalam hati dan terekspresi keluar yaitu di wajah atau fisiknya, orang yang bertampang welas asih, jujur, tulus, memegang janji, tingkah laku mantap tidak sembrono, biasanya dapat memperoleh rejeki. Sedang orang yang wajahnya judes, kejam, bertingkah laku sembrono, kebanyakan mendekati bencana, rejeki atau bencana pasti dapat diramalkan sebelumnya.


Niat baik, buruk seseorang pasti akan kontak dengan Yang Kuasa. Keberuntungan akan tiba, dapat ditebak dari sikapnya yang tenang dan mantap, demikian pula bencana yang akan menimpa, dapat ditebak dari sikapnya yang kontradiksi, bengis. Bagi orang yang ingin mendapat rejeki dan menghindari bencana, boleh tidak mengutamakan pelaksanaan kebajikan terlebih dahulu, tetapi gigih berusaha mengoreksi kesalahan diri, pasti akan mendapat keberuntungan.

Tiga faktor utama untuk mengoreksi diri:


1. Faktor pertama “TAHU MALU”



Dahulu kala, banyak orang bijak dapat dikenang orang sepanjang masa, sedangkan kita tidak, malahan bereputasi buruk, dicaci maki orang. Jika seseorang hanya mementingkan kesenangan, reputasi, kekayaan, sehingga membuat hal-hal yang tercela dan sewenang- wenang untuk mendapatkan semua yang diinginkannya, masih membanggakan diri atas perbuatannya dan dikira tidak ada orang yang mengetahui tindakannya tersebut. Orang ini tidak menyadari bahwa lambat laun dia tidak lain tidak bukan hanyalah seekor binatang yang berkedok manusia! Di dunia tidak akan ada lagi kelakuan yang lebih memalukan dan rendah dari ini.


Mencius: Perasaan “Tahu Malu” ini sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu tindakan sepanjang hidupnya. Orang yang “Tahu Malu” adalah orang suci/bijak, orang yang tidak “Tahu Malu” sudah pasti adalah binatang. Kunci utama untuk mengoreksi kesalahan adalah terletak pada sehelai niat “Tahu Malu” ini, manusia berbeda dari binatang, hanyalah karena adanya rasa “Tahu Malu” ini juga.

Sesuai yang dikatakan Mencius di atas, Kunci utama untuk mengoreksi diri adalah sehelai niat “Tahu Malu” ini, orang yang tidak “Tahu Malu” adalah binatang. Renungkanlah selalu : Segala tingkah laku saya sehari-hari memalukankah? Saya adalah seorang bijak atau hanya seekor binatang yang berkulit manusia? Ingatlah! Tingkah laku kita yang memalukan bukan hanya mencoreng nama baik keluarga sendiri, tetapi juga perusahaan tempat kita kerja, lingkungan masyarakat kita, yang lebih berat lagi NEGARA, IBU PERTIWI kita. Ini adalah dosa yang besar sekali, karena seluruh rakyat negara turut menanggung kesalahan yang kita buat.

2. Faktor kedua “RASA TAKUT”

Apa yang kita lakukan? Yang Kuasa, Bumi, Dewa, Malaikat, Makhluk halus berada di sekeliling kita dan selalu memperhatikan seluruh tindakan kita. Mereka berbeda dengan manusia, mereka dapat melihat segala sesuatu tanpa halangan. Sehingga tidak mungkin kita dapat menyembunyikan diri dari mereka.


Walaupun kita berbuat kesalahan di tempat yang tidak ada orang yang menyaksikan, tetapi Yang Kuasa, Bumi, Dewa, Malaikat, Makhluk halus, ibarat sebuah cermin, jelas-jelas mencerminkan semua kesalahan kita. Bila berbuat kejahatan besar, maka semua bencana akan menimpa kita, bila kejahatan ringan, akan mengurangi keberuntungan yang sudah ada. Bagaimana kita tidak takut akan hal ini. Setiap saat, bila kita berada di kamar yang kosong, para Dewa, Malaikat mengawasi kita dengan teliti dan mencatat semuanya. Kita dapat menutupi kesalahan kita dari orang lain.

Akan tetapi Yang Kuasa, para Dewa, Malaikat, Makhluk halus dapat melihat sampai ke dalam hati kita, karena itu, mereka mengetahui segala niat dan perbuatan kita. Yang penting kita tidak boleh menipu diri sendiri. Kita akan merasa malu dan tidak jujur jika orang melihat kesalahan kita. Karena itu, bagaimana kita tidak ekstra hati-hati dalam melakukan setiap perbuatan dan takut akan akibat yang akan muncul? Tetapi lebih dari itu! Sepanjang seseorang masih bernafas, dia masih mempunyai kesempatan untuk menyesal, walaupun kesalahan atau kejahatan fatal.

Dahulu kala, ada seseorang yang seumur hidupnya berbuat kejahatan, merasa bersalah dan sangat menyesal lalu bertekad akan membuat suatu kebaikan dan memperoleh akhir ajal yang baik. Ini menjelaskan : bila seseorang dapat berniat baik dan menyesali kesalahannya pada saat yang sangat penting ini, akan membersihkan segala kesalahan yang telah dibuat ratusan tahun. Sama seperti sebuah lampu dapat menerangi lembah yang telah mengalami kegelapan ribuan tahun. Tidak masalah kesalahan yang dibuat besar atau kecil, yang penting adalah bertekad mau mengoreksinya.

Bila berbuat kesalahan, adalah baik untuk mengoreksinya. Akan tetapi jangan ada pikiran untuk membuat kejahatan sekarang karena kita selalu dapat menyesal dan dikoreksi belakangan. Ini sama sekali dilarang. Bila seseorang sengaja berbuat kejahatan, maka balasannya akan jauh lebih berat dari sebelumnya. Di samping itu, kehidupan manusia tidak kekal, badan kita yang terdiri dari daging dan darah mudah rusak. Bila nafas berhenti, maka badan ini bukan milik kita lagi, tidak ada kesempatan untuk mengoreksi kesalahan tersebut lagi.

Masih seberapa panjangkah umur kita? 100 tahun? 50 tahun? Waspadalah! Panjangnya umur kita hanya diantara nafas, sekali nafas tidak sambung, kita meninggal. Jangan ada pikiran bahwa saya masih muda, masih banyak waktu. Juga bila seseorang meninggal, segala barang duniawi tidak dapat dibawa, hanya karma baik dan buruknya yang mengikuti arwahnya, sebagai dasar untuk diadili di akhirat dan penentuan tempat tujuan arwahnya. Karena itu, bila seseorang berbuat kesalahn, akibatnya adalah menanggung nama buruk sepanjang masa, bahkan anak cucu yang berbakti juga tidak sanggup membersihkan namanya. Di akhirat, dia akan menanggung penderitaan yang tidak dapat diutarakan. Oleh karena itu bagaimanaseseorang tidak merasa takut?

3. Faktor ketiga “TEKAD DAN KEBERANIAN”


Seseorang yang ragu-ragu untuk mengoreksi kesalahannya adalah orang yang benar-benar tidak ingin mengubah, dan puas dengan keadaan yang sedang berlangsung. Karena keinginan mengubah tersebut tidak kuat, membuat kita takut untuk mengoreksi kesalahan kita. Untuk mengubah kesalahan, kita harus berusaha keras untuk segera mengubahnya. Kita tidak boleh ragu-ragu atau tunggu dulu, ditunda sampai besok atau hari berikutnya untuk mengubah kesalahan kita tersebut. Kesalahan kecil adalah ibarat sebuah duri menusuk daging kita dan harus segera dicabut. Kesalahan besar adalah ibarat jari kita yang digigit ular berbisa yang harus segera dipotong tanpa ragu-ragu untuk menghindari racun tersebut menjalar ke bagian lain dan mematikan. Bila kita mengikuti ketiga cara tersebut di atas untuk mengoreksi diri, sudah pasti kepribadian kita akan berubah. Seumpama matahari melumerkan salju di musim semi. Kesalahan kita akan hilang melalui tiga cara tersebut.

Tiga tahapan dalam mengubah kesalahan:


1. Mengubah kesalahan berdasarkan masalahnya


Misalnya, bila saya membunuh makhluk hidup kemarin, mulai hari ini saya berjanji tidak akan membunuh lagi. Bila saya marah besar, mulai hari ini saya berjanji tidak akan marah lagi. Inilah cara bagaimana seseorang mengubah kesalahan berdasarkan masalahnya dengan berjanji tidak mengulangi lagi kesalahan yang telah dibuat. Bagaimanapun akan lebih sulit ratusan kali lipat bila kita memaksa diri tidak berbuat sesuatu daripada kita hanya berhenti berbuat sesuatu secara normal. Bila kita tidak mencabut akar kesalahan kita, tetapi hanya menahannya, kesalahan akan muncul lagi bahkan kita kadang-kadang telah berhenti melakukannya. Karena itu, metode mengubah berdasarkan masalahnya tidak dapat membantu kita melepaskan diri dari perbuatan salah secara permanen.

2. Mengubah berdasarkan peraturannya



Metode ini adalah yang lebih efektif. Kita dapat mengoreksi kesalahan diri dari pengertian terhadap kebenarannya mengapa kita tidak boleh melakukan perbuatan tersebut, misalnya dalam hal membunuh, kita dapat berpikir bahwa . . . . . Mencintai semua makhluk hidup adalah hukum kebenaran alam. Semua makhluk berjiwa ingin hidup dan takut mati. Bagaimana kita boleh membunuhnya untuk menyambung nyawa kita? Kadang kala, hewan dimasak hidup-hidup, seperti ikan atau kepiting, belum dipotong sudah dimasukkan ke dalam periuk. Kesakitannya akan menusuk sampai ke tulang, bagaimana kita dapat sedemikian kejam terhadap hewan?

Bila kita makan, kita menggunakan bahan makanan yang mahal dan enak-enak untuk kesehatan kita, makanan memenuhi seluruh meja. Tetapi setelah dimakan bahkan makanan yang paling enakpun belum tentu dapat diserap oleh badan dan akan dibuang oleh badan juga. Berpikir lagi bahwa hewan mempunyai daging, darah dan perasaan seperti kita. Kita dapat melatih diri dengan membiarkan hewan tetap hidup di sekitar kita, bagaimana kita terus menerus mencelakakan mereka dan membuatnya membenci kita? Bila kita memikirkannya, secara wajar kita akan merasa kasihan dan tidak tega membunuh dan memasaknya sehingga menghilangkan kebiasaan untuk membunuh. Hal yang sama juga seperti orang yang mudah marah, bahwa semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, tidak ada yang sempurna, bila ada yang menggangu, itu adalah urusannya, tidak ada urusan dengan saya, tidak ada gunanya saya marah dan merasa tersinggung. Saya juga dapat berpikir . .Orang yang mengira dirinya selalu benar, maunya orang lain yang selalu berbuat begini begitu, tetapi mengapa tidak meminta diri sendiri juga berbuat yang sama? Orang ini adalah orang bodoh. Seseorang yang beretika dan yang selalu melatih diri, pasti selalu rendah hati, koreksi diri dan memperlakukan segala sesuatu dengan sabar. Maka orang yang selalu mengkritik dan mengeluh terhadap orang lain adalah bukan seorang manusia sejati.

Oleh karena itu, bila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, itu adalah karena kita belum cukup melatih etika dan moral, belum mengumpulkan kebajikan untuk dapat menyentuh hati orang, kita harus selalu introspeksi diri apakah kita sendiri yang telah memperlakukan orang lain dengan tidak baik. Bila kita rajin mempraktekkan cara ini untuk melatih etika maka fitnahan orang lain kepada kita adalah merupakan suatu lapangan latihan kita untuk mengoreksi sifat pemarah, sehingga mencapai tujuan baik. Oleh karena itu, kita harus gembira untuk menerima kritik, caci maki, fitnahan orang. Apa yang perlu kita marah dan kesalkan? Sebagai tambahan pula, tetap tenang dan sabar menghadapi fitnahan orang adalah seumpama membiarkan sebuah obor terbakar di udara, akan padam dengan sendirinya. Bila kita mendengar fitnahan langsung membela diri dan marah, adalah ibarat ulat sutra yang membelenggu diri dengan kepompongnya. Seperti pepatah kuno …. “Orang yang membelenggu diri dalam kepompong adalah mencari penderitaan sendiri”. Oleh karena itu, bila kita marah, kesal akan menganggu fungsi hati/lever, tidak ada untung malahan rugi. Demikian juga kita memperlakukan kesalahan yang sejenis. Bila kita dapat mengerti dan berpikir dengan baik dan teliti, kesalahan tidak akan terulang lagi.


3. Mengubah berdasarkan hati


Walaupun kesalahan yang dibuat manusia beribu jenis dan juga berbeda-beda, semua itu adalah berasal dari hati/pikiran. Bila tanpa pikiran, maka tidak ada tindakan dan tidak mungkin berbuat kesalahan. Bila hati kita selalu dipenuhi oleh keinginan, nama, untung, sex, kemarahan, kita tidak mungkin dapat terlepas dari perbuatan salah. Kita memerlukan hati yang tulus, baik dan keinginan untuk melakukan perbuatan yang baik. Selama kita selalu berhati baik, sudah tentu tidak akan muncul pikiran kacau.

Semua kesalahan berasal dari hati, maka kita harus mengubah dari hati. Ibarat membuang sebatang pohon beracun, kita harus mencabut sampai ke akar-akarnya agar tidak dapat tumbuh lagi, mengapa mau membuangnya dengan mencabuti daun per daun, cabang per cabang? Cara yang terbaik untuk mengubah kesalahan diri adalah melatih hati kita. Bila kita dengan tulus dan tekun melatih hati kita, maka akan segera menghapus segala kesalahan.
“Karena segala kesalahan adalah bersumber di hati“.

Membersihkan hati dapat menghapus pikiran-pikiran yang tidak baik sebelum menjadi perbuatan. Bila hati kita bersih murni, kita dapat segera menghentikan pikiran-pikiran tidak baik yang muncul, ide-ide yang amoral akan segera hilang pada saat kita menyadarinya. Bila kita tidak berhasil mengubah pikiran tidak baik berdasarkan hati, maka kita akan coba pada level mengubah berdasarkan kebenaran, yaitu mengapa kita perlu mengubah. Bila kita tidak berhasil dengan kedua metode ini, maka kita akan mencoba metode mengubah berdasarkan masalah dan memaksa memusnahkan pikiran tersebut.

Cara paling baik adalah melatih hati kita dan mengerti alasan untuk mengubah. Cara alternatif lain adalah memaksa diri jangan berbuat salah lagi. Kadang-kadang ke 3 metode tersebut dapat digunakan untuk mencapai hasil yang baik. “Adalah bodoh bila meninggalkan cara yang terbaik yaitu mengubah kesalahan berdasarkan hati daripada berdasarkan masalah”.

Akan tetapi bila seseorang berjanji untuk berubah, memerlukan bantuan teman sejati yang selalu mengingatkan kita dan sebagai saksi atas perbuatan kita sehari-hari. Sedangkan utnuk pikiran yang baik atau tidak baik, kita minta Yang Kuasa, Dewa, Malaikat sebagai saksi. Saya mempraktekkannya dengan menulis semua kesalahan saya dan melaporkan kepada Langit, Bumi, Dewa, Malaikat. Kita juga perlu menyesal dengan tulus dan sepenuh hati dari pagi sampai malam tanpa lengah. Bila kita dapat menyesal dengan tulus dari waktu ke waktu, kita pasti berhasil. Pada saat ini, kita akan merasa berlapang hati, damai, bijak, dalam situasi kacau kita tetap tenang, bertemu musuh/orang yang tidak kita sukai malahan senang, atau bermimpi memuntahkan banyak kotoran hitam, bermimpi para orang suci membimbing kita, bermimpi melayang-layang di angkasa, melihat hal-hal yang menakjubkan, gejala-gejala ini menunjukkan bahwa kita telah berhasil membersihkan kesalahan/karma buruk, akan tetapi jangan bangga dan merasa puas, tetaplah melatih diri sampai akhir hayat kita. Pada zaman Chun Chiu, ada seorang pegawai pemerintah di Wei, bernama Bwo Yu Chu. Ketika berumur 20 tahun, ia sudah menyadari kesalahan yang telah diperbuat pada masa sebelumnya dan berusaha mengkoreksinya, saat berumur 21 tahun, ia merasa masih belum mengkoreksi semua kesalahannya, saat berumur 22 tahun, ia merasa kehidupannya selama 21 tahun yang lalu hanya sebagai mimpi, tanpa ada kemajuan, tahun berlanjut tahun, ia terus menerus mengkoreksi kesalahannya. Ketika berumur 50 tahun, Bwo Yu masih merasa bahwa kehidupannya selama 49 tahun penuh dengan perbuatan tidak baik. Ini adalah cara leluhur kita mengkoreksi dan menyesali kesalahan yang telah dibuat.

Kita semua adalah manusia biasa yang berbuat kesalahan seperti duri landak banyaknya. Kita sering tidak dapat melihat kesalahan yang telah dibuat. Ini adalah karena kelengahan kita tidak dapat mengintrospeksi diri, seperti mata telah ditumbuhi katarak, kita menjadi buta sehingga tidak melihat kesalahan yang kita buat setiap hari. Ini adalah indikasi bahwa manusia telah membuat banyak kesalahan dan kejahatan. Orang yang banyak dosa dan karma buruk, kebanyakan sering bingung, tidak konsentrasi, pelupa, bila bertemu orang suci/bijak, selalu merasa bersalah dan tertekan, tidak senang mendengar ajaran baik, hukum sebab akibat, membalas budi orang dengan kedendaman. Sering bermimpi buruk, selalu mengeluh. Ini adalah gejala bahwa orang tersebut telah banyak berbuat kesalahan dan kejahatan.

Bila kita mempunyai gejala tersebut di atas, kita harus segera mengaku salah dan berusaha keras untuk mengubah kesalahan serta berbuat kebajikan untuk mengubah diri, jangan menunda-nunda lagi.